Kasus Terbunuhnya Brigadir J, Pekat IB DPW Jatim Turun Jalan Mendukung Polri

Kasus Terbunuhnya Brigadir J, Pekat IB DPW Jatim Turun Jalan Mendukung Polri
Foto: Aksi damai Pekat IB DPW Jatim Turun Jalan Mendukung Polri di depan Mapolda Jatim.

SURABAYA – Suarademokrasi.id | Guna untuk mengungkap pelaku atas kasus terbunuhnya Brigadir J, Organisasi Masyarakat Pekat Indonesia Bersatu Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Timur disingkat Pekat IB DPW Jatim turun jalan untuk melaksanakan aksi damai.

Aksi damai ini digelar di depan Mapolda Jawa Timur, jalan A. Yani Surabaya, dengan tagar #Save Polri dan #Save Kapolri. Guna untuk dukungan kepada Polri dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo itu atas instruksi Ketua Umum Pekat IB, H. Markoni Kotto, SH. dan dikarenakan panggilan hati nurani para Pimpinan dan anggota Pekat IB Jatim. Senin 01 Agustus 2022.

Giat aksi ini, dipimpin langsung Ketua Dewan Penasehat Pekat IB Jatim Hartanto Boechori, Sekretaris Pekat Jatim Rani Maharani dan Ketua OKK Sumidi, 50 pengurus dan anggota Pekat DPW Jatim turun ke jalan mendengungkan aksi mendukung Kapolri menuntaskan Penegakan Hukum terbunuhnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Baca juga:

Dalam aksi tersebut dengan tegas, lantang dan tanpa menggunakan mikrofon, Hartanto Boechori, meneriakkan hukum tetap harus ditegakkan tanpa harus memandang apa pangkat dia.

“Bila ada pihak-pihak, siapapun juga, berpangkat apapun, jabatan apapun yang berupaya menghalang-halangi atau berupaya mengaburkan penegakan hukum kasus terbunuhnya Brigadir J, wajib dihabiskan,” tegasnya

Pria 62 tahun yang kelihatan masih sangat enerjik itu terus meneriakkan suaranya mendukung Kapolri untuk menuntaskan kasus pembunuhan Brigadir J.

“Maju terus Kapolri bapak Listyo Sigit Prabowo. Saya pribadi dan kami seluruh organ Pekat Indonesia Bersatu, mendukung sepenuhnya Kapolri beserta jajaran untuk menuntaskan pengungkapan ‘teka-teki’ terbunuhnya Brigadir J,” ujarnya.

Hartanto Boechori yang juga Ketua Umum Organisasi Wartawan PJI (Persatuan Jurnalis Indonesia) itu menyampaikan kepada media ini, dirinya meminta agar Kapolri beserta jajaran secepatnya menetapkan tersangka dan melakukan penahanan.

“Pemeriksaan istri Ferdy Sambo juga tidak selayaknya mundur-mundur karena yang bersangkutan Saksi Kunci. Jalankan hukum sebagaimana mestinya. Perlakukan semua orang sama dimata hukum. Equality before the law”, ucapnya.

Kepada Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Timur Kombes Pol Dirmanto, SH., SIK. dan Kasubdit III Direktorat Intelkam Polda Jatim AKBP Agus Prasetyo SH M.Hum, mewakili Direktur Intelkam di ruang Bid Humas Polda Jatim seusai aksi, Boechori menegaskan dukungan pribadi maupun dukungan resmi Ormas Pekat kepada Kapolri untuk menuntaskan peristiwa terbunuhnya Brigadir J.

Pemilik Sasana Kick Boxing BKBC/Buchori Kick Boxing Camp itu juga meminta agar dukungan tersebut disampaikan kepada Kapolri beserta jajaran di Mabes Polri. Dan disetujui Kabid Humas maupun Kasubdit Intel. Akan dibuatkan laporan ke Mabes Polri.

Selain itu, Sumidi korlap aksi di depan Mapolda Jatim menegaskan dalam orasinya bahwa tewasnya Brigadir J menjadi trending topik publik di tanah air dan menimbulkan banyak spekulasi yang cenderung liar sehingga membuat kepercayaan masyarakat terhadap Institusi Polri semakin menurun.

Dirinya meminta Tim Khusus bentukan Kapolri dan Komnas HAM secepatnya memberikan keputusan yang pasti, terbuka dan transparan dalam membedah kasus tersebut, sehingga kepuasan terhadap Institusi Polri maupun ke Kapolri Listyo Sigit Prabowo tetap dipercaya rakyat sebagai lembaga Independen, yang mana Polri adalah sebagai pengayom rakyat dan pelindung masyarakat Indonesia.

“Kami sebagai ormas PEKAT mendukung penuh terhadap Polri tepat, akurat dan kredibel,” pungkasnya.

Menutup pertemuan, Kombes Pol Dirmanto, selaku Kabid Humas Polda Jatim, mengucapkan banyak terimakasih atas partisipasi dan dukungan morilnya terhadap institusi Polri, terhadap ormas PEKAT IB secara Nasional khususnya DPW Jatim, semoga kedepan tambah maju dan jaya.

“Sekali lagi kami atas nama Kapolda Jatim mengucapkan banyak terimakasih atas kepercayaan dan dukungan Pekat Indonesia Bersatu Jatim yang dalam hal ini diwakili Bapak Hartanto Boechori selaku Ketua Dewan Penasehat dan Sekretaris Pekat, Rani Maharani”, tutup Dirmanto.

Ketua Pekat Indonesia Bersatu Jatim H. Rahmat Santoso, SH., MH. melalui Ketua Dewan Penasehat menyampaikan salam hormat kepada bapak Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo beserta jajaran dan khususnya kepada Kapolda jatim Irjen. Pol. Dr. Nico Afinta, S.I.K., S.H., M.H. beserta jajaran.

Ketua Umum DPP IPHI (Ikatan Penasehat Hukum Indonesia) dan juga Wakil Bupati Blitar Jawa Timur itu menyampaikan dukungan sepenuhnya kepada Kapolri Listyo Sigit Prabowo menuntaskan penegakan hukum atas terbunuhnya Brigadir J.

Perlu diketahui, aksi #Save Polri dan #Save Kapolri yang dilaksanakan Pekat Indonesia Bersatu Jatim itu atas terbunuhnya Brigadir Yosua atau Brigadir J di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Ferdi Sambo di Duren III Jakarta, 8/7/2022, yang sampai hari ke 24 masih menyimpan “gunungan misteri.”

Perkara yang menurut pakar hukum dan kriminal maupun orang awam sekalipun sebagai kasus pidana biasa dan “terang benderang”, faktanya pemecahannya “super-duper” rumit, berbelit-belit dan melibatkan berbagai institusi Negara.

Beberapa Jenderal Polisipun sampai harus “diturun-gunungkan” atau sampai melibatkan Kapolri dan para petinggi Polri di jajarannya.

Nyaris semua orang awam sampai para pakar hukum/kriminal di Indonesia bahkan mungkin juga di dunia merasa “gemas” dengan penanganan perkara yang “melambung”.

Menkopolhukam Mahfud MD dan bahkan Presiden Jokowi juga sampai beberapa kali “menjewer” Polri agar kasus ini segera diselesaikan secara professional dan terbuka. Tetap saja Polri masih harus bertindak “super multi ekstra ribet”.

Masyarakat awam pun paham, bila Brigadir J itu dan lingkaran pembunuhnya masyarakat biasa, maka Polisi dipastikan sudah dapat menuntaskan segera setelah kejadian.

Spekulasi pun berkembang liar. Ada apa di tubuh Polri?! “Gerbong” Jenderal ini dan itu saling “tarik-menarik” kekuasaan. Penyidik bekerja di bawah tekanan. Komnas HAM, Kompolnas, Laboratorium Forensik dan LPSK bagian dari Polisi, tidak mungkin bisa independen.

Dan berbagai spekulasi lain berkembang di tengah masyarakat, lingkaran Polisi sendiri dan para pensiunan petinggi Polisi serta para pakar di bidangnya masing-masing.

Kredibilitas Polri dipertaruhkan. Kepercayaan masyarakat terhadap Polri menjadi “mengambang”. Pengamatan di lapangan, beberapa kalangan masyarakat mencemooh kerja Polri yang dinilai ambigu, tidak tegas.

Dan kembali lagi menjadi tanda-tanya besar, apa yang terjadi di tubuh Polri?! Benarkah tongkat komando Kapolri Listyo Sigit Prabowo tidak berfungsi sepenuhnya?! “Pertarungan kekuatan”?!

Exit mobile version