SUMENEP, Suarademokrasi — Festival Desa Wisata Sumenep 2025 resmi ditutup pada Sabtu malam, 21 Juni 2025, setelah berlangsung selama tiga hari penuh sejak Kamis, 19 Juni 2025. Acara yang digelar di sisi timur Taman Bunga itu menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Tujuan utama festival ini, sebagaimana disampaikan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, adalah untuk menggali, mengangkat, dan mempromosikan potensi wisata alam, budaya, kuliner, serta ekonomi kreatif yang dimiliki oleh desa-desa di seluruh wilayah Kabupaten Sumenep.
“Festival Desa Wisata bukan sekadar ajang hiburan atau pameran, tetapi momentum strategis untuk memperkuat identitas desa dan membangkitkan ekonomi lokal melalui pariwisata yang berkelanjutan, sehingga ke depannya mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat,” ujar Bupati dalam sambutan pembukaan festival, Kamis (19/6/2025).
Baca Juga: Festival Desa Wisata 2024 Ditutup Penuh Kemeriahan Oleh Bupati Sumenep
TikTok: https://vt.tiktok.com/ZSk7M1FbX/
Dalam sambutannya, Bupati juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah desa dan masyarakat dalam mengembangkan sektor pariwisata. Ia menilai bahwa desa-desa yang memiliki potensi wisata perlu mengemasnya menjadi objek wisata yang menarik dan berdaya saing.
“Strategi pemasaran yang efektif dan edukatif sangat dibutuhkan agar potensi desa dikenal luas,” jelasnya.
Menurut Bupati, festival ini merupakan salah satu bentuk promosi yang paling nyata. Selain memperkenalkan berbagai potensi wisata dan produk desa, festival ini juga memberikan ruang bagi masyarakat desa untuk belajar cara memasarkan potensi mereka secara digital dan kreatif.
“Di era modern, digitalisasi dan promosi kreatif memegang peranan penting, terutama dalam menjangkau pasar yang lebih luas melalui penyajian konten yang menarik dan informatif,” tegasnya.
Selama tiga hari penyelenggaraan, Festival Desa Wisata Sumenep 2025 menampilkan ragam kekayaan lokal mulai dari wisata alam, religi, sejarah, kerajinan anyaman, hingga olahan pangan tradisional khas daerah. Suasana festival tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang menarik, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong di antara masyarakat desa.
Menutup sambutannya, Bupati Fauzi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kekompakan dalam membangun desa melalui pariwisata. “Kami mengajak seluruh masyarakat menjaga kekompakan dan semangat gotong royong dalam memajukan desanya masing-masing,” pungkasnya.
Festival Desa Wisata ini diikuti oleh perwakilan kecamatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Kabupaten Sumenep. Salah satu yang menarik perhatian Bupati dan Wakil Bupati adalah stand Kecamatan Kepulauan Raas, yang menyajikan kekayaan laut berupa kuliner khas hasil tangkapan nelayan dan kerajinan tangan UMKM lokal. Tidak hanya itu, Kecamatan Raas juga mempromosikan kucing busuk, hewan khas yang menjadi ikon unik wilayah kepulauan tersebut, dan menarik minat para pengunjung serta pejabat daerah.
Dimalam penutup Festival Desa Wisata tahun ini, Camat Raas, Subiyakto, saat ditemui media menyampaikan bahwa partisipasi daerahnya dalam festival ini merupakan kesempatan untuk memperkenalkan potensi lokal yang jarang dikenal publik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pulau-pulau terpencil pun memiliki kekayaan budaya dan alam yang bisa dijadikan daya tarik wisata,” ujar Subiyanto kepada redaksi, Sabtu malam 21 Juni 2025.
Dengan berakhirnya festival ini, Pemkab Sumenep berharap setiap desa mampu melanjutkan upaya promosi dan pengembangan potensi wisata secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga sektor pariwisata benar-benar menjadi penggerak utama ekonomi lokal.
