Berita  

Pemkab Sumenep Menggelar Festival Ketupat Sebagai Kebudayaan

Pemkab Sumenep Menggelar Festival Ketupat Sebagai Kebudayaan
Foto: Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo bersama istri tercinta.
banner 120x600

SUMENEP, Suarademokrasi – Ribuan warga memadati kawasan wisata Pantai Slopeng, Sumenep, Senin (7/4/2025), dalam gelaran Festival Ketupat 2025 atau yang dikenal sebagai Tellasan Topak. Festival ini digelar sebagai acara budaya tahunan di Sumenep yang bukan sekadar perayaan lebaran ketupat, melainkan simbol kuat kebersamaan dan pelestarian warisan leluhur masyarakat Madura.

Lebih dari 1.500 pengunjung dari berbagai wilayah hadir sejak pagi hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari arak-arakan ketupat, penampilan seni tradisional, hingga pelepasan merpati putih sebagai lambang harapan dan perdamaian.

Achmad Fauzi Wongsojudo yang terpilih menjadi Bupati Sumenep dua periode ini, hadir didampingi istri bersama jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Tellasan Topak bukan hanya peristiwa budaya, tetapi juga cerminan nilai-nilai luhur tentang kebersamaan dan spiritualitas masyarakat Madura.

Baca Juga: Bupati dan Wakil Bupati Sumenep Periode 2025-2030 Resmi Dilantik Presiden 

“Tellasan Topak bukan sekadar makan ketupat. Ia adalah bahasa kasih, warisan nilai-nilai luhur: tentang berbagi, kesetaraan, dan saling memahami,” ujar Fauzi di hadapan ribuan peserta yang hadir.

Acara ini dibuka pukul 08.30 WIB dengan iringan musik sronen dan tarian pesisir yang menggugah suasana. Gunungan ketupat dan tumpeng diarak dengan khidmat, dan disambut antusias masyarakat yang berebut ketupat sebagai simbol keberkahan dan penyatuan nilai budaya.

Dalam sesi penutup, Bupati Fauzi mengumumkan rencana kejutan untuk Festival Ketupat tahun depan, yakni menggelar lomba kreasi ketupat antar kepala dinas. Menurutnya, ajang ini akan menjadi sarana mempererat solidaritas dan mendorong kreativitas di lingkungan birokrasi.

“Tahun depan kita adakan lomba kreasi ketupat khusus untuk kepala dinas. Biar tambah seru, ada semangat berkompetisi tapi tetap guyub,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.

Festival ketupat di tahun ini juga diramaikan oleh pertunjukan musik tong-tong dari Laskar Madura Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, serta penampilan tari tradisional oleh sanggar seni lokal. Di sisi lain, Lomba Menu Ketupat yang melibatkan seluruh OPD menampilkan kreativitas kuliner berbasis tradisi Madura yang mampu menggoyang lidah.

Baca Juga :  Polres Sampang Mandul Terhadap Kasus Dugaan Penggelapan Honor BPD 

Ritual Ngocol Dara atau pelepasan burung merpati menjadi penutup yang syahdu. Burung-burung putih yang terbang ke langit biru Pantai Slopeng menjadi simbol harapan agar nilai-nilai budaya ini tetap hidup dan diwariskan ke generasi mendatang.

Bupati Fauzi menegaskan bahwa Festival Ketupat juga menyentuh aspek ekonomi lokal, pendidikan, dan pemberdayaan komunitas. Ia menyebut keterlibatan komunitas sebagai kekuatan utama keberhasilan acara ini.

“Kami ingin budaya dan ekonomi berjalan berdampingan. Komunitas lokal menjadi motor utama, dan pemerintah hadir sebagai fasilitator,” jelasnya.

Acara ini disiarkan langsung oleh Diskominfo Sumenep dan menjadi salah satu ajang promosi budaya terbesar di wilayah Madura. Diharapkan, kegiatan seperti ini akan terus tumbuh menjadi magnet wisata budaya dan memperkuat identitas lokal Sumenep di mata nasional maupun internasional.