SUMENEP, Suarademokrasi – Pelayanan kesehatan di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep menunjukkan bahwa penyembuhan bukan hanya persoalan tindakan medis, tetapi juga tentang empati dan perhatian. Hal ini tercermin dari keseharian para tenaga kesehatan (nakes) di Poli Fisioterapi, yang tak sekadar memberikan terapi fisik, tetapi juga semangat hidup bagi puluhan pasien yang mereka tangani.
Setiap hari, para nakes di poli ini melayani pasien dengan berbagai keluhan seperti saraf kejepit, stroke, cedera otot, hingga gangguan sendi. Mereka tak hanya andal secara teknis, tetapi juga dikenal ramah, sabar, dan komunikatif dalam mendampingi proses pemulihan. Dalam suasana terapi yang hangat dan manusiawi, senyum dan sapaan menjadi bagian tak terpisahkan dari metode penyembuhan.
“Saya datang pertama kali dengan nyeri hebat dan sulit berjalan. Tapi saya merasa didukung secara psikologis oleh semangat dan keramahan para terapis di sini,” ujar Pak Rahman, pasien asal Bluto.
Baca Juga; Dukungan Moril Terus Mengalir Untuk Dirut RSUD Sumenep
TikTok: https://vt.tiktok.com/ZSAyQbEpQ/
Hal senada disampaikan oleh Pak Tris dari Kecamatan Pragaan, penderita saraf kejepit yang merasa jauh membaik setelah beberapa sesi terapi. “Petugasnya sabar, ramah, dan benar-benar ahli. Saya sangat terbantu,” tuturnya.
Pendekatan pelayanan yang mengutamakan terapi individual, komunikasi terbuka, dan peralatan medis yang memadai menjadi kekuatan utama poli ini. Seorang fisioterapis menjelaskan bahwa upaya mereka tidak hanya untuk menyembuhkan fisik, tetapi juga menghidupkan kembali semangat dan motivasi pasien.
“Kami ingin pasien tidak merasa sendirian dalam proses pemulihan. Menjadi pendengar yang baik adalah bagian dari pekerjaan kami,” ujarnya.
Keluarga pasien pun menyampaikan apresiasi mendalam. Ibu Rina, warga Guluk Guluk yang mendampingi anaknya menjalani terapi stroke, mengatakan, “Anak saya awalnya tidak bisa mengangkat tangan. Tapi setelah rutin terapi, gerakannya mulai pulih. Ini bukan hanya kerja medis, tapi panggilan hati.”
Suasana ruang terapi yang nyaman dan relasi humanis antara nakes dan pasien menciptakan lingkungan pemulihan yang kondusif. IM, pasien saraf kejepit, bahkan menyebut dirinya merasa diperlakukan “bukan sebagai pasien, tetapi sebagai keluarga.”
Direktur RSUD Sumenep, dr. Erliyati, M.Kes, menegaskan bahwa peningkatan mutu pelayanan, termasuk di bidang fisioterapi, merupakan komitmen berkelanjutan rumah sakit. “Kami ingin menciptakan layanan rehabilitasi yang bukan hanya efektif, tetapi juga memberi rasa aman dan nyaman. Pelayanan dengan hati menjadi prinsip utama,” ujarnya.
Menyusul kenaikan status RSUD Sumenep menjadi Rumah Sakit Tipe B, dr. Erliyati menyebut ini sebagai amanah sekaligus dorongan untuk memperluas cakupan layanan berstandar nasional. “Peningkatan ini harus sejalan dengan peningkatan kualitas SDM dan sistem layanan. Rumah sakit harus jadi tempat yang dipercaya untuk pulih, bukan sekadar tempat mengobati,” tambahnya.
Dengan komitmen yang kuat dan dedikasi tinggi dari para nakes, Poli Fisioterapi RSUD Sumenep kini menjadi salah satu pusat layanan kesehatan yang menginspirasi. Di sinilah tubuh dirawat, hati disentuh, dan harapan dipulihkan.














