Berita  

Malam Puncak HUT RI Ke-79 di Kecamatan Gayam Tuai Kekecewaan

Malam Puncak HUT RI Ke-79 di Kecamatan Gayam Tuai Kekecewaan
Foto: Kegiatan malam puncak HUT RI Ke-79 di Kecamatan Gayam.
banner 120x600

SUMENEP Suarademokrasi – Kegiatan malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 di Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, menuai banyak kekecewaan dari masyarakat setempat. Acara yang digelar di Gedung Olahraga (GOR) bulu tangkis Kecamatan Gayam, Sabtu malam 31 Agustus 2024 ini dinilai berlangsung dengan sangat sederhana dan tertutup.

Kegiatan Agustusan tersebut dari pelaksanaan perlombaan hingga penutupan menghabiskan anggaran sekitar Rp 53 jt, dengan anggaran yang dinilai begitu besar dan kegiatan penutup yang begitu sederhana dan tertutup membuat banyak pihak merasa tidak puas, terutama para peserta lomba yang sudah berpartisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan perayaan Agustusan.

Salah satu aktivis di Pulau Sapudi, yang menjadi narasumber untuk media, menyampaikan kekecewaannya terkait malam yang seharusnya menjadi puncak dan momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, khususnya para peserta yang ikut menyemarakkan perayaan. Namun, acara tersebut justru digelar dengan sangat sederhana dan tidak terbuka untuk masyarakat umum.

Baca Juga: Penganiayaan Terhadap Tunanetra di Sumenep Dituntut Hanya 1,6 Tahun, Apakah Sudah Adil?

“Malam puncak ini hanya dihadiri sekitar 70 undangan. Sound system yang digunakan pun sangat sederhana. Selain itu, hanya ada satu kali pementasan tari dari Siswa SMAN 1 Gayam, yang semakin menambah kesan sederhana dari acara penutupan ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, narasumber tersebut juga mengungkapkan bahwa beberapa peserta pemenang lomba tidak mendapat undangan dan tidak tercantum dalam daftar penerima hadiah. Meskipun demikian, mereka tetap hadir untuk mendengarkan pengumuman dari luar GOR.

Namun, hingga acara berakhir, nama-nama mereka tidak dipanggil untuk menerima hadiah. Salah satu pemenang yang kecewa bahkan mengungkapkan kekesalannya dengan nada emosi, “MASKE E BERRI’ HADIAH NASE’ BERUY TAK ANAPA SE PENTING JERIH PAYAH NA KAULE E ARGHEI,” (yang berarti meskipun hanya diberikan hadiah nasi basi, tidak masalah, asalkan usaha kami dihargai).

Baca Juga :  SPBU Kalianget Terus Jual Solar Subsidi Pada Jerigen

Menurut narasumber, para pemenang yang tidak dipanggil untuk menerima hadiah berasal dari pertandingan domino single dan double, serta pertandingan 7 Klaver. Mereka merasa bukan soal besar kecilnya hadiah, tetapi soal penghargaan dan kebanggaan sebagai pemenang yang sudah berusaha keras.

Menanggapi kritik ini, Ipung sebagai Ketua Panitia pelaksana, menjelaskan bahwa total anggaran yang digunakan untuk kegiatan perlombaan hingga penutupan acara mencapai sekitar Rp 53 juta. Ia juga memberikan alasan terkait digelarnya acara penutupan di dalam gedung yang tertutup bagi masyarakat umum.

“Kami memilih untuk memanfaatkan fasilitas gedung milik pemerintah yang ada, agar tidak perlu menggunakan tenda atau terop,” ujarnya.

Ipung juga menjelaskan tentang alasan beberapa pemenang lomba yang tidak dipanggil dalam giat acara penerimaan hadiah tersebut karena pemberian hadiah diberikan secara simbolis, hal itu yang menimbulkan pertanyaan dari masyarakat. Terkesan pihak penyelenggara nampak sengaja membatasi undangannya, agar kegiatan tersebut tidak begitu banyak mengeluarkan konsumsi.

“Pemberian hadiah tersebut dilakukan secara simbolis, karena kalau diundang semua kegiatan akan selesai sampai malam, tolong hal itu diluruskan” ucap Ipung saat dikonfirmasi media, Selasa 4 September 2024.

Meskipun demikian, alasan tersebut tampaknya tidak mampu meredakan kekecewaan masyarakat, terutama para peserta yang merasa usaha mereka tidak dihargai dengan baik. Kritik terhadap penyelenggaraan acara malam puncak HUT RI ke-79 ini menjadi catatan penting bagi panitia agar ke depannya lebih memperhatikan keterlibatan dan apresiasi terhadap semua pihak yang telah ikut berkontribusi.