SUMENEP, Suarademokrasi – Sumenep sudah mulai Gila-gilaan, dalam kondisi masyarakatnya terserang penyakit virus yang dibawa oleh nyamuk atau DBD dan permasalahan tumpukan sampah belum diatasi. Malah kini berencana akan menggelar konser DJ di Sumenep, sehingga memicu reaksi masyarakat.
Rencana digelarnya konser terbuka Disc Jockey (DJ) Almira di Sumenep terus menuai penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Penolakan ini didasarkan pada kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap kultur agamis masyarakat Sumenep yang mayoritas beragama Islam.
Melalui pemberitaan media online, dua organisasi Islam terbesar di Sumenep, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, telah menyatakan sikap tegas menolak acara tersebut. Mereka berpendapat bahwa konser semacam DJ bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan religius masyarakat lokal.
Baca Juga: Pelayanan Dinas PUTR Sumenep Sangat Mengecewakan
Konser DJ itu tidak hanya kurang kreatif, tetapi juga tidak memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Sumenep. Justru acara seperti itu lebih banyak mudaratnya daripada positifnya untuk masyarakat luas, dan akan berdampak buruk terhadap moralitas generasi muda dari pengguna narkoba dan miras.
Meski demikian, orang yang diduga berpihak pada penyelenggara terus berupaya menggiring opini publik melalui postingan video agar konser tersebut tetap digelar. Berbagai video dan konten di media sosial, khususnya di grup WhatsApp, digunakan untuk menyampaikan bahwa konser DJ akan berlangsung aman tanpa insiden yang merugikan masyarakat.
Kalau para pemangku kebijakan berfikir sehat dan memikirkan masa depan generasi bangsa, konser DJ tersebut tidak akan diberikan ijin untuk digelar di Sumenep karena kultur agamis masyarakat Sumenep tinggal.
Maka dari itu, Pengacara ternama di Ibukota Jakarta dan penasehat hukum media, Azam Khan, turut menyampaikan keprihatinannya. Dalam wawancara dengan media pada Sabtu (28/1/2025), ia menyebut bahwa konser DJ berpotensi akan menimbulkan pengaruh buruk terhadap generasi muda.
“Acara seperti ini hanya mengundang kemaksiatan. Musik DJ dengan pakaian minim dan gerakan joget akan memicu perilaku menyimpang, termasuk penyalahgunaan narkoba dan minuman keras. Apakah panitia dan kepolisian yang memberi izin dapat menjamin tidak ada hal buruk yang terjadi?” tegas Azam.
Berbeda dengan fashion show meskipun diiringi dengan musik DJ, tidak akan mengundang pengunjung untuk berjoget, mereka hanya menikmati dan menonton apa yang akan ditampilkan dengan berbagai gaya model yang berpakaian rapi dan sopan. Berbeda dengan kegiatan show DJ yang akan digelar di Sumenep nantinya.
Ia juga mempertanyakan sensitivitas pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dalam merespons acara yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.
“Jika pemerintah ingin meningkatkan ekonomi dan pariwisata, fokus saja pada potensi yang sudah ada, seperti Pantai Lombang dan Slopeng. Kembangkan destinasi wisata itu dengan kegiatan kreatif dan hiburan yang sesuai dengan nilai-nilai lokal,” tambahnya.
Penolakan terhadap konser ini semakin menguat, mengingat masyarakat Sumenep mengharapkan hiburan yang mendukung moralitas dan tidak melanggar norma agama. Hingga berita ini tayang, pihak Polres Sumenep belum ada tanggapan resmi terkait rencana konser DJ di Sumenep.














