Festival Tete Masa di Sumenep Hidupkan Tradisi dan Ekonomi

Festival Tete Masa di Sumenep Hidupkan Tradisi dan Ekonomi
Foto: Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim Membuka Festival tete masa di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.
banner 120x600

SUMENEP, Suarademokrasi – Pemerintah Kabupaten Sumenep terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya dan menggerakkan perekonomian masyarakat melalui gelaran Festival Tete Masa atau festival penaburan benih tembakau, yang digelar di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Selasa (15/07/2025).

Kegiatan yang diselenggarakan atas kolaborasi antara Karang Taruna Ipades Desa Juluk dan pemerintah desa ini tidak sekadar menampilkan hiburan, melainkan mengintegrasikan tiga pilar penting: pelestarian tradisi lokal, edukasi pertanian, dan promosi wisata desa.

Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, menyampaikan bahwa pemerintah daerah mengapresiasi terselenggaranya festival yang sarat nilai budaya tersebut. “Festival ini bukan sekadar selebrasi, tetapi mengandung edukasi, pelestarian, dan penguatan ekonomi desa. Kegiatan ini penting untuk menanamkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya,” ujarnya saat membuka acara.

Baca Juga: Tujuan Pemerintah Menggelar Festival Desa Wisata Sumenep

Festival Tete Masa dimulai dengan arak-arakan 42 “jheren serek” (kuda berjoget), dilanjutkan dengan prosesi penanaman bibit tembakau secara simbolis oleh Wakil Bupati dan tokoh masyarakat. Festival juga diramaikan dengan pameran budaya, diskusi pertanian, pameran produk kelompok tani, serta ditutup dengan pengajian akbar.

Lebih dari 300 peserta dari berbagai kelompok usia terlibat dalam festival ini, termasuk petani milenial, seniman lokal, dan tokoh adat. Kegiatan ini juga menampilkan ritual rokat makam leluhur, yakni tradisi sakral yang bertujuan menghormati para pendahulu dengan doa bersama dan persembahan hasil panen.

Ketua Karang Taruna Ipades, Ahmad Fairurrosi, menegaskan bahwa festival ini menjadi sarana edukatif bagi petani tembakau. “Kami ingin memberikan informasi tentang musim tanam yang tepat, teknik pertanian yang baik, serta bagaimana mengatasi ancaman hama. Ini penting agar hasil panen semakin berkualitas dan berdaya saing,” jelasnya.

Baca Juga :  Kepedulian DKPP Sumenep Terhadap Petani

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sektor pertanian, terutama komoditas tembakau, merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat Desa Juluk. Oleh karena itu, pemuda desa harus turut aktif dalam inovasi pertanian melalui pendekatan berbasis kearifan lokal.

Festival ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 15 hingga 16 Juli 2025, dipusatkan di lapangan sepak bola Desa Juluk. Dalam rangkaian kegiatan, turut digelar sesi ilmiah berupa diskusi terfokus tentang peningkatan produk tembakau, pemaparan hasil riset pertanian, dan perkenalan produk olahan lokal berbasis hasil tani.

KH. Imam Hasyim menyatakan bahwa Festival Tete Masa menjadi contoh integrasi budaya, pertanian, dan wisata yang harmonis. “Ini bukti nyata bahwa sektor budaya dan ekonomi kerakyatan bisa disinergikan untuk pembangunan desa yang berkelanjutan,” tutupnya.

Dengan dukungan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, Festival Tete Masa diharapkan menjadi agenda tahunan strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya di Kabupaten Sumenep.