SUMENEP, Suarademokrasi – Penemuan narkotika jenis sabu-sabu seberat total 38 kilogram di perairan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi sinyal bahaya yang sangat serius bagi aparat penegak hukum. Hal itu disampaikan oleh Direktur Jawa Timur P2NOT (Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika dan Obat Terlarang), Zamrud, Minggu (1/6/2025).
Temuan awal berasal dari laporan warga nelayan yang disampaikan ke Koramil dan kemudian ditindaklanjuti oleh Polsek Masalembu. Awalnya masyarakat menyerahkan 35 bungkus sabu di dalam drum yang ditemukan terapung di laut, dan kemudian menyusul 3 bungkus tambahan, sehingga total mencapai 38 kilogram, bisa saja lebih dari itu.
“Adanya barang terlarang tersebut merupakan ancaman serius bagi Madura, khususnya Sumenep. Hari ini, totalnya bertambah menjadi 38 kilogram. Jika satu gram dikonsumsi satu orang, artinya sebanyak 38.000 jiwa telah terselamatkan dari bahaya narkoba, dengan nilai total hampir Rp40 miliar,” ujar Zamrud kepada media, Minggu 1 Juni 2025.
Baca Juga: Nelayan Serahkan Lagi 1 Bungkus Sabu Yang Sebelumnya Dikira Tawas
TikTok: https://vt.tiktok.com/ZSkFBR1aP/
Zamrud menilai, barang narkotika yang ditemukan oleh nelayan menunjukkan bahwa lemahnya pengawasan aparat, terutama dari satuan Polisi Air dan Udara (Polairud), menjadi faktor utama lolosnya peredaran narkotika dalam jumlah besar ke wilayah laut Sumenep. Ia menegaskan, Polri bersama BNN Provinsi Jawa Timur harus membongkar jaringan besar di balik temuan tersebut.
“Jangan hanya menerima barang bukti lalu kasus berhenti di situ saja. Harus ada investigasi dan pengungkapan tuntas. Selain itu, nelayan yang menemukan dan melaporkan barang ini patut diberikan penghargaan oleh Polri, BNN, bahkan TNI. Tanpa mereka, barang haram ini bisa saja tidak diketahui,” tambahnya.
Menurutnya, narkoba jauh lebih berbahaya dari terorisme karena secara perlahan menghancurkan generasi bangsa. Penemuan sabu dalam jumlah besar ini disebutnya sebagai “alarm keras” yang tidak boleh diabaikan.
Zamrud juga menyoroti tantangan geografis wilayah Sumenep yang terdiri dari banyak pulau, yang menyulitkan aparat untuk bekerja sendiri. Oleh karena itu, ia mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba.
“Polri dan BNN tidak bisa bekerja sendiri. Harus menggandeng aktivis anti-narkoba, media, tokoh masyarakat, TNI, dan pemerintah. Jangan alergi dengan kritik. Temuan besar ini berkat kesadaran masyarakat, bukan karena operasi aparat,” tegasnya.
Zamrud juga mengingatkan agar pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap permasalahan narkoba. Menurutnya, organisasi seperti NGO atau aktivis anti-narkoba harus dirangkul dalam upaya edukasi ke masyarakat, khususnya generasi muda.
“Bayangkan jika sabu-sabu ini jatuh ke tangan pengguna atau jaringan gelap. Berapa ribu orang akan hancur? Kritik ini saya sampaikan demi kebaikan bersama. Jangan malah anti terhadap kritik,” pungkasnya.














