SUMENEP, Suarademokrasi – Pelaksanaan Kejuaraan Pencak Silat Antar Pelajar Bupati Sumenep Cup V/2026 tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA sederajat yang berlangsung pada 3–5 Juli 2026 di Lapangan GOR Sumenep menuai berbagai sorotan. Ajang yang digelar sebagai bagian dari upaya menjaring bibit atlet berprestasi itu dinilai belum didukung kesiapan penyelenggaraan yang optimal, baik dari aspek fasilitas, pelayanan peserta, maupun mitigasi keadaan darurat.
Sorotan itu muncul ketika pertandingan pada Jumat (3/7) sempat terhenti selama beberapa jam setelah pelaksanaan Salat Jumat akibat pemadaman listrik. Ketiadaan generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan membuat seluruh rangkaian pertandingan tertunda, sehingga ratusan orang yang terdiri peserta dan pendamping harus menunggu tanpa kepastian jadwal lanjutan.
Di sisi lain, sejumlah peserta mengaku tidak memperoleh konsumsi berupa makanan maupun minuman selama menunggu giliran bertanding. Padahal, para peserta untuk mengikuti pertandingan yang menguras stamina dan berisiko mengalami kelelahan fisik karena harus bertanding demi mengharumkan dan membawa perwakilan nama sekolah masing-masing.
Baca Juga: Festival Budaya Sumenep Perkuat Identitas Lokal
Sorotan tidak berhenti pada persoalan fasilitas. Berdasarkan pantauan di arena pertandingan, saat salah seorang peserta mengalami pingsan usai bertanding, respons petugas medis dinilai tidak berlangsung cepat. Sejumlah petugas medis terlihat berjalan santai sebelum memberikan penanganan kepada atlet yang terjatuh, sehingga memunculkan kritik dari penonton dan pendamping peserta mengenai kesiapsiagaan tim medis dalam menghadapi kondisi darurat.
Peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai standar kesiapsiagaan penyelenggara dalam menjamin keselamatan atlet. Dalam setiap kejuaraan olahraga bela diri, kecepatan respons medis merupakan salah satu aspek penting untuk meminimalkan risiko apabila terjadi cedera maupun keadaan yang memerlukan penanganan segera.
“Seharusnya petugas medis itu sigap disaat ada salah satu peserta yang memerlukan penanganan medis. Petugas medis itu jangan ngelamun, harus bisa memperhatikan keadaan dari segala penjuru dan jangan sampai telat memberikan pertolongan yang akhirnya berdampak fatal pada peserta,” Geram salah satu seorang pendamping perguruan silat kepada media.
Kondisi tersebut menimbulkan penilaian sejumlah pihak bahwa penyelenggaraan kejuaraan masih memerlukan evaluasi menyeluruh, terutama terkait penyediaan fasilitas pendukung, pelayanan dasar bagi peserta, hingga kesiapan tenaga medis selama pertandingan berlangsung. Diharapkan pihak Disparbudpora yang membidangi harus berada di lokasi untuk memberikan pengawasan dan mengevaluasi pelaksanaan.
Kurangnya kepedulian Disparbudpora Kabupaten Sumenep yang mengelola uang pajak rakyat terlihat saat menanggapi persoalan padamnya listrik, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, Saifuddin, S.Pd, menyampaikan bahwa instansinya tidak memiliki genset.
“Maaf, jika genset dinas tidak punya. Ini kami juga lapor untuk segera ditangani,” ujarnya saat dikonfirmasi media, Jumat (3/7).
Dirinya juga mengatakan bahwa baru mendapatkan informasi setelah pihak media melakukan konfirmasi sekitar pukul 14.31 WIB. Hal itu menunjukkan bahwa pihak pemerintah melalui Disparbudpora Kabupaten Sumenep tidak ada satupun yang mengikuti proses pencarian bibit atlet pancak Silat untuk Kabupaten Sumenep.
“Sebentar saya konfirmasi, ini baru dapat informasi saya,” Jawab Saifuddin.
Mengenai keluhan peserta yang tidak memperoleh konsumsi, Saifuddin menegaskan bahwa urusan teknis menjadi tanggung jawab panitia pelaksana. Menurutnya, Disparbudpora telah memberikan bantuan anggaran stimulan untuk mendukung pelaksanaan kejuaraan tersebut.
“Untuk teknis ada di panitia dan panitia sudah diberikan dana stimulan dari dinas,” tegasnya.
Namun, ketika dimintai penjelasan mengenai besaran dana stimulan yang dialokasikan sebagai bentuk transparansi penggunaan anggaran publik, Saifuddin mengaku tidak mengingat nominalnya. Hal seperti ini menimbulkan kecurangan publik dalam penggunaan anggaran rakyat yang dikelola oleh pihak pemerintah.
“Saya ndak hafal, Pak, sebab bidang pemasaran bagian anggarannya berkaitan event,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Kejuaraan Pencak Silat Antar Pelajar Bupati Sumenep Cup V/2026, Imam, membenarkan bahwa panitia memang tidak menyediakan konsumsi bagi peserta selama pelaksanaan kejuaraan. Namun, saat dikonfirmasi mengenai besaran bantuan anggaran yang diterima dari Disparbudpora Kabupaten Sumenep, Imam belum memberikan keterangan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media, peserta yang ikut pertandingan kejuaraan pancak silat ada uang pendaftarannya yang dibayar pihak sekolah. Sedangkan pihak panitia dan Disparbudpora Kabupaten Sumenep yang memberikan bantuan dana tidak ada keterbukaan, hal ini patut kita awasi bersama dan perlu ada pemeriksaan dari pihak yang berwenang.
Berbagai persoalan tersebut menjadi catatan penting bagi penyelenggara maupun pemerintah daerah untuk diawasi. Mengingat kejuaraan ini membawa nama Bupati Sumenep Cup dan bertujuan melahirkan atlet-atlet potensial, penyelenggaraan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kompetisi, tetapi juga memenuhi standar pelayanan, keselamatan, dan kenyamanan peserta.
Evaluasi terhadap kesiapan fasilitas, sistem penanganan medis, penyediaan kebutuhan dasar atlet, serta transparansi penggunaan anggaran dinilai menjadi langkah penting agar penyelenggaraan kejuaraan olahraga daerah semakin profesional, akuntabel, dan berorientasi pada pembinaan prestasi, jangan dijadikan bisnis untuk keuntungan pribadi dan kelompok.














