SUMENEP, Suarademokrasi | Tak terasa kita telah menginjak bulan Sya’ban. Artinya, bulan Ramadan yang penuh berkah dan ampunan itu sebentar lagi akan tiba untuk umat Islam. Maka dari itu segenap keluarga media Suara Demokrasi mengucapkan mohon maaf lahir batin.
Dimana malam pertengahan (Nifsu Sya’ban) ini, amal perbuatan kita setahun penuh sebagai manusia makhluk ciptaannya yang dituntut untuk beribadah kepadanya, yang dicatat oleh dua malaikatnya akan diangkat ke pada Allah Swt.
Kita sebagai manusia yang tidak akan lepas dari kesalahan dan perbuatan dosa kepada sesama, maka dari itu dibulan Nifsu Sya’ban ini kita sesama ciptaannya sebagai manusia saling untuk memaafkan dari segala kesalahan yang sudah kita lakukan sengaja maupun tidak disengaja, semoga kita sebagai umatnya mendapatkan ampunannya.
Baca Juga: Hadirlah Kajian Fiqih Islam Di Masjid Babussalam Kalianget Barat
Karena tidak ada harta dan jabatan yang kita miliki tidak bisa di banggakan dihadapan Allah SWT, karena derajat manusia sama kecuali keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, “Surat Al-Hujurat ayat 13: Semua Manusia Setara di Sisi Allah SWT, Kecuali Ketakwaan.”
Perlu diketahui, Bulan Sya’ban memiliki banyak keutamaan. Rasulullah dalam hadis riwayat ‘Aisyah menganjurkan supaya memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban ketimbang bulan-bulan lainnya.
‘Aisyah bahkan menyebut Nabi Muhammad berpuasa sebulan penuh disambung dengan bulan Ramadan sebagaimana diriwayatkan melalui jalur Abu Salamah maupun dari jalur Abdullah bin Abi Qays.
Rasulullah memperbanyak puasa sunnah. Kita bisa melakukan Puasa Daud, bisa Puasa Senin-Kamis sehingga memperbanyak puasa di bulan ini sangat efektif mempersiapkan bulan Ramadan.
Anjuran memperbanyak puasa sunnah lebih-lebih karena kemuliaan bulan Sya’ban yang di dalamnya terdapat malam pertengahan (Nifsu Sya’ban) di mana amal manusia akan diangkat ke langit Allah Swt, oleh dua Malaikat Allah yaitu Malaikat Roqib dan ‘Atid. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan, entah itu baik atau buruk yang sudah dicatat oleh malaikat dengan sebenarnya dan sesungguhnya.
“Bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa,” demikian penjelasan hadis riwayat Usamah bin Zaid RA.
Puasa di Bulan Sya’ban boleh, tapi sesuai kemampuan, Rasulullah Muhammad SAW menganjurkan umat Islam berpuasa, tapi untuk memahami kemampuan dirinya dalam melaksanakan puasa sunnah. Jadi tidak berlebih-lebihan dalam kondisi tidak memungkinkan.
Sebab di bulan Ramadan nanti seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa penuh selama 30 hari. “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan melakukan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa (dan waktu kebiasaan puasanya itu jatuh) pada hari itu, maka silahkan dia berpuasa pada hari itu,” demikian hadis riwayat Abu Hurairah RA.
Nifsu Sya’ban adalah malam yang di mana diangkat semua amal perbuatan kita, sebagai umat Islam yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, mari kita untuk saling maaf memaafkan dan memperbanyak amal perbuatan baik kita.
Dari hadis Abu Tsa’labah dan Abu Musa, Rasulullah menyampaikan bahwa Allah akan memberi ampunan di malam Nisfu Sya’ban kecuali bagi orang musyrik dan pendengki. Mari kita perbanyak melakukan amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah adalah puasa Sunnah di bulan Sya’ban, karena memang kita bersiap menjalani puasa wajib di bulan Ramadan.
Di Bulan Sya’ban ini umat muslim bisa memperbanyak amalan shaleh dengan berpuasa sunnah dan menunaikan shalat malam. Seperti yang sudah diriwayatkan dalam hadits berikut ini:
“Jika tiba malam Nisfu Syaban, maka sholatlah (sunnah) pada malam harinya (malam lima belas) dan berpuasalah (sunnah) pada siang harinya (hari kelima belas)” (HR. Ibnu Majah).
Puasa Sya’ban disukai Rasulullah SAW
Perbanyaklah puasa di bulan Sya’ban karena puasa di bulan ini merupakan amalan yang disenangi oleh Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut telah tertera pada sebuah hadits dari Usamah bin Zayd RA, sebagai berikut:
“Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa di bulan-bulan lainnya seperti Anda berpuasa di bulan Sya’ban ini? Rasulullah SAW menjawab: Karena ini bulan yang banyak dilalaikan manusia diantara Rajab dan Ramadhan. Padahal di bulan ini amalan terangkat sampai ke Rabb semesta alam, dan saya senang apabila saat amalku terangkat saya sedang berpuasa.”














