SUMENEP, Suarademokrasi – Setelah sempat viral di berbagai media, tumpukan sampah yang mencemari pantai di kawasan Pelabuhan Cinta, tepatnya di depan Kantor PT Garam Kalianget sebagai BUMN, akhirnya dibersihkan oleh gabungan aparat pemerintah, TNI, dan masyarakat setempat, Selasa (27/5/2025).
Aksi bersih-bersih ini dilakukan setelah sorotan dari media dan organisasi masyarakat (Ormas) memicu kepedulian berbagai pihak. Porpimka (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan) Kalianget bersama pihak pemerintah desa setempat turun langsung membersihkan sampah yang selama ini dibuang sembarangan ke laut. Hal itu patut kita apresiasi dan dijadikan panutan untuk peduli dengan lingkungan.
Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kelautan dan Perikanan Kecamatan Kalianget, Sarkawi, menyambut baik langkah cepat ini. Ia menyampaikan apresiasi juga atas keterlibatan berbagai pihak, namun juga menegaskan bahwa upaya ini tidak boleh berhenti di satu momentum saja.
Baca Juga: Sarkawi Kritik Keras Pemerintah Desa dan Camat Kalianget Terkait Sampah
TikTok: https://vt.tiktok.com/ZSh3tpQXW/
Selain itu, Sarkawi menyayangkan ada pembangunan pelabuhan rakyat yang menghabiskan miliaran, dibiarkan mangkrak begitu saja dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, daripada pelabuhan TUKS yang secara ilegal dibiarkan dijadikan transit bongkar muat dugaan barang Ilegal.
“Pelabuhan rakyat atau Pelra ini sudah lama tidak difungsikan. Sejak mangkrak lebih dari 20 tahun, tempat ini justru dijadikan lokasi pembuangan sampah oleh masyarakat. Padahal, pembangunan pelabuhan ini menelan anggaran hingga Rp10 miliar,” ujar Sarkawi.
Ia menambahkan, sejak pelabuhan tidak lagi digunakan, anggota Pokmaswas dan instansi terkait sudah berulangkali melakukan pembersihan. Bahkan, pagar yang pernah dibuat oleh pihak Syahbandar untuk menutup akses masuk telah rusak dan kemudian diganti dengan pagar bambu oleh Pokmaswas.
Sarkawi mendesak pemerintah desa dan porpimka agar tidak hanya fokus pada pembersihan sesaat, namun juga menata ulang kawasan pelabuhan agar tidak kembali menjadi tempat pembuangan sampah. Ia juga mengingatkan pentingnya solusi jangka panjang, mengingat Kalianget Timur memiliki sekitar 9.000 penduduk dan menjadi wilayah transit antar kepulauan, dengan aktivitas usaha yang cukup padat.
“Jika tidak ada penanganan serius, bukan tidak mungkin area ini akan kembali dipenuhi sampah. Kami minta ada langkah nyata dan rutinitas kerja bakti yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sarkawi menyinggung pentingnya pemanfaatan Dana Desa secara tepat sasaran. Ia berharap anggaran tersebut digunakan secara transparan dan akuntabel, terutama untuk penanganan sampah dan lingkungan.
“Dana Desa itu uang rakyat. Jangan malah bertele-tele hanya untuk mengelabui masyarakat dan dikorupsi. Ini tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Permasalahan sampah di kawasan Pelabuhan Cinta bukanlah hal baru. Namun, lemahnya kepedulian pemerintah desa dan kecamatan, ditambah saling lempar tanggung jawab, serta pembiaran masyarakat membuang sampah sembarangan, menjadikan masalah ini terus berlarut. Jika tidak segera diatasi, dampaknya bisa semakin luas: pencemaran lingkungan, ancaman kesehatan, dan potensi banjir di musim hujan.
Dengan adanya pemberitaan ini, masyarakat diharapkan untuk saling sadar diri menjaga kebersihan dengan tertib membuang sampahnya pada tempat yang sudah ada. Hal itu bisa terwujud dengan kepedulian dan peranserta pihak pemerintah untuk memberikan fasilitas tempat pembuangan sambapah dan alat kebutuhan untuk giat kerja bakti, seperti MC pemotong rumput dan alat pendukung lainnya.
Seperti halnya di Desa Kalianget Barat, RT yang sudah bergerak rutin dalam giat kerja bakti, kurang dukungan dan perhatian dari pihak pemerintah, pasalnya MC pemotong rumput yang diminta sejak tahun 2023 sampai saat ini tidak diperhatikan, hanya membelikan 2 unit yang diberikan kepada RT lain dan tidak bisa dipinjam, hal itu menunjukkan pihak pemerintah tebang pilih, sehingga selalu menimbulkan permasalahan di masyarakat.














